Thursday, November 3, 2016

NON PROBABILITY SAMPLING METHOD


Berdasarkan aspek peluang pemilihan sampel, metode pemilihan sampel atau sampling method dikelompokkan menjadi dua tipe yaitu
1.           metode sampel non-peluang atau non probability sampling method; dan
2.           metode sampel peluang atau probability sampling/random sampling method.
Metode sampel dikatakan metode sampel non-peluang jika proses memilih unit sampelnya (sample unit) tidak melibatkan unsur peluang. Proses ini sangat sederhana dan tidak rumit, namun mempunyai kekurangan yaitu tidak bisa dilakukan uji signifikansi. Hal tersebut berarti analisis inferensial secara statistik menjadi tidak valid. Sebaliknya, metode sampel peluang adalah metode sampel yang dalam proses pemilihan unit sampelnya didasarkan pada unsur peluang, sehingga peluang setiap satuan sampelnya untuk terpilih diketahui besarnya.

Walaupun metode sampel non-peluang memiliki kekurangan di atas, ada beberapa alasan menggunakan metode sampel non-peluang yaitu
1.      biaya terlalu besar untuk menyelidiki banyak kasus sementara metode sampel peluang kurang  reliable;
2.         peneliti hanya bisa bekerja dengan kasus yang ada saja;
3.      untuk mengumpulkan informasi mengenai gejala atau pelitian awal suatu permasalahan atau tujuan eksploratif  atau belum diperlukan generalisasi statistik yang akurat; serta
4.         populasinya kurang dari 100 atau populasi sangat sedikit.
Dengan alasan-alasan tersebut, non probability sampling method lebih baik digunakan daripada probability sampling method.

Macam-Macam Teknik Non Probability Sampling Method

1.           Convinience/Incidental/Accidental/Haphazard/Fortuitous Sampling
Pengambilan sampel dengan cara ini tidak mewakili secara normal target populasi. Hal ini karena unit sampel hanya dipilih berdasarkan conveniently/readily available atau tersedianya target populasi pada saat penelitian.

Kelebihan :
Ø Biaya murah dan hemat waktu.
Ø Sampling unit (responden) mudah diakses, mudah  diukur dan biasanya sangat membantu dan mau bekerja sama.
Ø Sangat tepat digunakan untuk pilot study dan penelitian eksploratif.

Kelemahan :
Ø Bila proses pemilihan sampel tidak dilakukan seleksi lebih lanjut, keputusan yang diambil akan bias atau tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Ø Dituntut kehati-hatian dalam menerjemahkan hasil penelitian.

Contoh :
Penelitian mengenai kondisi air danau yang tercemar. Dengan anggapan bahwa air di danau telah tercemar secara menyeluruh, maka semua lokasi di danau akan memiliki informasi yang sama. Oleh karena itu, dimanapun sampel air diambil akan mewakili kondisi danau yang tercemar.

2.           Judgement/Purposive Sampling
Pendekatan ini digunakan saat sampel yang diambil didasarkan pada penilaian yang pasti (expert judgement) mengenai populasi secara keseluruhan. Akan tetapi, dalam penarikan sampel harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai populasi yang dipilih.

Kelebihan :
Ø  Dapat digunakan dalam kondisi probability sampling tidak dapat digunakan sama sekali.
Ø  Ukuran sampel relatif kecil (n < 20).
Ø  Peneliti memiliki pengetahuan dan penguasaan yang memadai terhadap topik yang dihadapi.

Kelemahan :
Ø Peneliti dituntut jeli dalam mendefinisikan populasi dan membuat pertimbangan dalam memilih sampel.
Ø Pertimbangan harus masuk akal dan relevan dengan maksud penelitian.

Contoh :
Peneliti ingin memutuskan untuk menarik sampel yang terdiri dari beberapa kota sebuah negara, sehingga representatif dari populasinya (seluruh kota dalam negara tersebut). Ketika menggunakan metode ini, peneliti harus yakin bahwa kota yang dipilih sebagai sampel benar-benar mewakili dari seluruh kota sebagai populasinya.

3.           Quota Sampling
Quota sampling adalah sejenis purposive sampling yang ada kemiripan dengan proportional stratified random sampling. Teknik ini membagi-bagi populasi menjadi strata yang relevan seperti usia, jenis kelamin, lokasi, dsb. Kemudian setiap strata diperkirakan atau ditentukan berdasarkan data eksternal, lalu total sampel dibagi-bagi sesuai proporsi ke setiap strata (quota sampling). Untuk memenuhi jumlah sampel tiap strata, peneliti dapat menggunakan expert judgement. Perbedaan metode ini dengan stratified random sampling adalah sampel diambil secara acak, sedangkan quota sampling berdasarkan pendapat subyektif peneliti dengan asumsi jumlah sampel (quota) terpenuhi.

Kelebihan :
Ø Peneliti lebih leluasa menentukan elemen-elemen tiap quota.
Ø Tidak perlu membuat kerangka sampel (sampling frame).
Ø Apabila sampel yang dipilih tidak dapat dilakukan pendataan, dapat dipilih sampel lain untuk memenuhi jumlah quota.

Kelemahan :
Ø Bias karena tidak ada prosedur atau tata cara yang baku bagi pewawancara dan teknik wawancaranya (memilih- milih responden dan lokasinya, serta kadang kriteria responden tidak dapat diterima).
Ø Bias karena data yang diperoleh sangat beragam.

Contoh :
Populasi 55% pria dan 45% wanita. Dari sampel 100 orang berarti 55 pria dan 45 wanita. Pemilihan sampelnya sendiri tergantung penilaian dan tujuan peneliti.

4.           Snowball/Chain Refferal Sampling
Teknik pengambilan sampel dimana satuan pengamatan diambil berdasarkan informasi dari satuan pengamatan sebelumnya yang sudah terpilih. Dengan kata lain, responden diminta memberikan nama dan kontak anggota lain dari target populasi. Asumsinya bahwa sesama anggota saling mengenal, misalnya hackers, pengidap penyakit HIV/AIDS, homoseksual, dll.

Kelebihan :
Ø Bias relatif kecil karena sampel terfokus.

Kelemahan:
Ø Biaya dan waktu besar karena populasi spesifik dan tersebar.

Contoh :
Penelitian mengenai penyebaran penyakit AIDS, yaitu dengan menelusuri orang-orang yang diduga mengidap penyekit ini berdasarkan informasi dari si penderiat pertama yang ditemukan. Begitu seterusnya terus menyambung dari responden satu ke responden yang lain sampai sampel mencukupi.

0 comments:

Post a Comment